 |
| Dok. Sanggar Seni yonokong Manaya |
Banyak yang bertanya, "Mengapa budaya harus dipertahankan?", entah pertanyaan itu muncul secara terpaksa atau karena rasa ingin tahu dari dalam diri mereka.
Bagiku... "Budaya adalah Hidupku". Budaya menggambarkan keberadaan seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari manusia itu lahir, tumbuh, dan hidup, hingga nantinya akan mati. Siklus yang terjadi merupakan proses panjang bagaimana budaya suatu peradaban hadir dalam setiap relung kehidupan manusia tanpa bisa dilepaskan. Gagasan ini sejalan dengan pandangan antropolog Arnold van Gennep mengenai Rites of Passage, di mana budaya hadir mengawal setiap ritus transisi kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pendewasaan, hingga kematian. Hal ini dipertegas oleh E.B. Tylor yang mendefinisikan kebudayaan sebagai kompleksitas pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, dan hukum yang didapat manusia dalam bermasyarakat. Sebagaimana ditekankan pula oleh Clifford Geertz, kebudayaan bukanlah sekadar pertunjukan visual, melainkan sebuah "sistem makna" dan pola menyeluruh (way of life) yang menuntun bagaimana manusia berpikir, berinteraksi, dan memaknai seluruh keberadaannya.
Memang kita mesti mampu beradaptasi dengan modernisasi yang semakin hari merenggut seluruh aspek nilai dan norma sosial di masyarakat, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan budaya sebagai identitas diri yang menggambarkan siapa kita dan bagaimana kita hidup. Namun dalam kenyataannya, budaya kini telah kehilangan esensi yang seharusnya. Banyak pertunjukan budaya akhir-akhir ini berubah wujud menjadi ajang seni pertunjukan demi kepuasan segelintir pelaku bisnis, bahkan para pemangku kepentingan itu sendiri. Semua keputusan yang dihasilkan tidak pernah melibatkan para pelaku seni sebagai benteng terakhir suatu peradaban budaya yang terus hidup dalam masyarakat adat.
Ajang-ajang festival hanya menjadi suatu seremonial semata, karena roh dan nilai-nilai budaya tersebut telah terkikis habis oleh nafsu pemenuhan kepuasan diri. Banyak komunitas dan sanggar seni budaya yang terus eksis mempertahankan nilai dan makna budaya suatu peradaban, tetapi ruang mereka semakin terhimpit oleh berbagai macam aturan dan regulasi yang menyulitkan. Apakah nilai budaya itu hanya sebatas seni pertunjukan? Apakah para pelaku seni hanya menjadi bahan eksploitasi demi pemenuhan kepentingan penguasa? Argg... geram, gusar bergejolak dengan seribu pertanyaan yang berkecamuk tanpa bisa berbuat apa-apa.
 |
| Dok. Sanggar Seni Yonokong Manaya |
Karena panggung kami dirampas, pentas kami dicuri! Fenomena pengikisan nilai ini dalam kajian akademis dikenal sebagai komodifikasi budaya (cultural commodification). Sosiolog kebudayaan Guy Debord dalam karya fenomenalnya The Society of the Spectacle menyatakan: "When the real world is transformed into mere images, the mere images become real beings." (Ketika dunia nyata diubah menjadi sekadar citra gambar, citra gambar itu sendiri yang menggantikan kenyataan). Ketika ritual dan seni tradisi dipadatkan dan disesuaikan hanya demi estetika panggung serta kepuasan penonton, nilai sakral dan sejarahnya hilang. Keadaan ini dipertegas oleh antropolog Greenwood yang menyatakan secara lugas: "Commodification is a process by which things (and activities) come to be evaluated, primarily in terms of their exchange value in a context of trade... tourism human commodities can destroy the authenticity of local cultures." (Komersialisasi menjadikan kebudayaan dinilai semata-mata berdasarkan nilai tukarnya dalam pasar, yang jika dibiarkan akan menghancurkan otentisitas kebudayaan lokal itu sendiri).
Tragedi pengikisan esensi ini nampak jelas pada pergeseran peran Festival Danau Sentani (FDS) di Papua. Tempat yang sejatinya dihajatkan sebagai ruang sakral berkumpul, bersosialisasi, dan berdialektika antar-pelaku seni serta masyarakat adat—sebagai benteng terakhir penjaga warisan budaya Danau Sentani—kini semakin tergeser dari roh aslinya. Peneliti Wilhelmina Welis S. Rumaropen dalam kajian akademisnya di Universitas Gadjah Mada, Peran Festival Danau Sentani dalam Mendukung Pelestarian Sumber Daya Kebudayaan Lokal di Kabupaten Jayapura, menggarisbawahi pentingnya keterlibatan penuh masyarakat lokal agar festival tidak kehilangan fungsi utamanya dalam perlindungan nilai adat. Sayangnya, FDS kini sering kali direduksi menjadi selebrasi seremonial tahunan demi mengejar target angka kunjungan pariwisata, sementara seniman dan pemangku adat lokal hanya dijadikan "figuran" panggung yang ruang geraknya dibatasi oleh regulasi teknis birokrasi.
Lantas, pertanyaan tajam ini harus dilemparkan secara terbuka kepada pemerintah, dinas terkait, serta para pemerhati budaya: Sampai kapan budaya hanya dipandang sebagai komoditas jualan dan atraksi hiburan lima menit di atas panggung? Mengapa aturan dan regulasi justru makin mencekik sanggar-sanggar seni lokal yang berjuang mandiri? Jika panggung adat terus dicuri dan pelaku seni hanya ditumbalkan demi pengisian kas daerah dan serangkaian seremoni kosong, jangan salahkan sejarah jika kelak generasi mendatang Danau Sentani hanya mengenal budayanya sebagai cerita masa lalu tanpa ruh dan tanpa makna.
"Bagaimana pendapat Anda mengenai pergeseran nilai budaya saat ini? Sampaikan pandangan Anda di kolom komentar di bawah."
Komentar
Posting Komentar