Jeritan Yang diBungkam: "Kitong Masih Ada"
Aku Papua...
Aku Papua...
Tubuh yang tanahnya terus dirampas, yang paru-paru hijaunya ditumbangkan, dan kekayaan alamnya dikeruk demi memuaskan kerakusan oligarki. Kami menyaksikan ruang hidup kami menyempit; tempat kami berpijak perlahan sirna, sumber penghidupan terputus, dan hak atas kehidupan yang layak di atas tanah sendiri dipangkas secara sistematis. Di bawah bayang-bayang militerisasi dan ancaman yang tak pernah usai, bentangan tanah adat kami berubah menjadi arena penguasaan yang menyisakan kepedihan mendalam.
Aku Papua...
yang dibungkam dalam sepi, diteror, dan diintimidasi hanya untuk mengenyangkan syahwat kekuasaan. Ada ironi yang menyayat hati ketika mereka menjunjung tinggi kebebasan berpendapat di panggung utama, sementara di tanah ini, suara kami dibelenggu dan kebebasan kami dirampas. Secara filosofis, kebebasan sejati bukanlah sekadar izin untuk berbicara tanpa rasa takut, melainkan pengakuan penuh atas hakikat kemanusiaan kami yang paling mendasar.
Aku Papua...
Dan akan selalu menjadi Papua. Meski fisik kami tertekan dan keterbatasan melingkupi, kesederhanaan dan ikatan batin kami dengan tanah leluhur melahirkan kemerdekaan jiwa—sebuah kedalaman spiritual yang tidak akan pernah bisa diintimidasi, dirusak, atau dihancurkan oleh kekuasaan manapun. Jiwa kami tetap merdeka di balik dinding kebungkaman ini.
Dari balik luka dan sunyi, harapan kami tidak akan pernah padam. Suatu hari nanti, tanah yang berdarah ini akan kembali menyaksikan anak-anaknya berjalan dengan kepala tegak, menghirup udara kebebasan yang sejati, dan menguasai takdirnya sendiri di atas tanah miliknya. Kegelapan ini pasti berlalu, sebab kebenaran, keadilan, dan martabat manusia Papua akan selalu menemukan jalannya untuk bangkit dan bersinar.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar