Jeritan Sunyi di Atas Tanah Leluhur: Saat Seni Menjadi Cermin Keresahan Papua
"Mulut Manis....., tapi tindakan Pahit. Tokok sagu adalah budayaku, juga danau sentani adalah budayaku. Tokok sagu adalah hidupku, juga danau sentani adalah hidupku. Tapi semua su habis, sagu saja kam tebang, budaya apa yang kam bicara. Danau Sentani saja kam timbun, hidup a
Sepenggal lirik dari monolog yang ditampilkan pada Festival Danau Sentani XV Tahu
Memang benar bahwa dalam adat Sentani secara khusus, perempuan tidak memiliki hak untuk berbicara mengenai tanah, adat, dan budaya—tetapi aturan adat tersebut berlaku terbatas di dalam panggung adat (Obhe). Apa yang ditampilkan oleh Adik Meylan berlangsung di panggung Festival Danau Sentani, yang merupakan ruang publik sekaligus wahana seni pertunjukan. Menilai materi monolog tersebut secara dangkal tanpa membedakan ruang adat dan ruang ekspresi seni merupakan bentuk kekerdilan berpikir. Secara teoritis, pertunjukan seni monolog berfungsi sebagai ruang refleksi sosial. Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kajian estetika teater dan seni pertunjukan, monolog bukan sekadar pembacaan teks tunggal, melainkan medium katarsis dan kritik sosial tempat seniman menyuarakan realitas yang tersumbat di tengah masyarakat.
Materi yang dibawakan merupakan karya seni sastra yang bernilai tinggi, berkelas, dan elegan. Sebagai pelaku seni, apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada Adik Meylan yang telah berani menjadi aktor utama di panggung yang diciptakannya sendiri, sementara pihak yang ber
Kitong menyampaikan keresahan lewat karya nyata, dan itu mahal. Kitong tunjukan pada dunia bahwa kitong masih ada sebagai penjaga warisan luhur yang meliputi tanah, dusun, danau, dan budaya lewat cerita yang mungkin bagi sebagian orang d
Kini, pertanyaan besar itu terus menggantung di udara: apakah suara tersebut akan tersampaikan atau hanya dikenang sebagai pelengkap pemanis dalam sebuah perhelatan acara; apakah keresahan tersebut akan membawa dampak positif bagi keberlanjutan; serta apakah setiap telinga yang mendengar akan bertindak ataukah tetap berdiam diri dan membanggakan peran figuran yang mereka jalani. Lewat jeritan monolog ini, nurani setiap pembaca diketuk untuk tidak sekadar membisu saat tanah dan budaya terancam tergerus.
Komentar
Posting Komentar